Sabtu, 22 November 2014

Tebuireng Selenggarakan Bahtsul Masail Se-Jatim

Salah satu peserta bahsul masail sedang mencari rujukan dalam kitab kuning.
abrorsanggarkepoedang.blogspot.com--Pesantren Tebuireng menyelenggarakan Bahtsul Masail dengan mengundang para santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur, Kamis (20/2/2014). Aktifitas intelektual seperti ini penting diselenggarakan secara massal di Pesantren maupun masyarakat guna menjawab berbagai permasalahan social dalam kehidupan.
Acara ini diikuti oleh puluhan pesantren yang tersebar didaerah Jawa Timur, seperti Lirboyo, Sidogiri, Ploso, Paiton, Pacol Gowang dan lain sebagainya.
Sambutan selanjutnya disampaikan langsung oleh Rektor Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH.Nur Hanan, Lc, M.Pdiyang mewalikili civitas Tebuireng sekaligus perwakilan dari Gus Sholah yang saat itu tidak bisa hadir karena ada pertemuan dengan para sejarawan guna membahas Museum Nusantara KH. Hasyim Asy’ari di Jakarta.

Boleh Sholat Pakek Masker

abrorsanggarkepoedang.blogspot.com--Jombang, Sholat Jum’at hari ini, 14 Pebruari 2014 nampak berbeda dari sholat jumat pada biasanya. Pasalnya Jumat kali ini para jamaah sholat dikabupaten Kediri dan sekitarnya was-was dengan abu vulkanik letusan Gunung Kelud yang beterbangan.
Dampak abu vulkanik letusan gunung kelud kediri jawa timur, tidak hanya menimpa aktivitas perokomian warga, tapi juga dirasakan oleh para santri.
Tak terkecuali santri pondok pesantren tebuireng. Kegiatan ibadah juga sempat terganggu akibat bertebarannya abu vulkanik di lingkungan pesantren.

40.DEBU PASIR

Bukit pasir remanen
Membentuk gundukan
Menjelmakan rasa dan jiwa
Menjadi manifes galau

Diriku terombang-ambing
Diriku debu bukit pasir
Terlintasi oleh para kafilah
Seharusnya
Rasa yang beroase
Menyejukkan di tengah gurun
Berubah,
Menjadi sabana kering
Yang bersemak duri

Kumpulan-kumpulan debu terorak arik
Oleh ulah angin
Yang legah, menghancukan
Kepingan-kepingan batu keras
Lembut tak bersisa

Aku tak tahu
Akan  bawa rasaku ini pergi
Gurun sudah tak beroase
Sabana pun kering berduri
Apa harus aku biarkan mati ?

39.MUNAFIK

Lidah adalah mata
Lidah adalah cerminan maya
Lidah adalah nama
Dan lidah adalah rasa dan jiwa

Lidah juga bisa menjadi mangsa
Lidah juga bisa  menjadi binatang buas
Lidah juga bisa menjadi belati panas

Juluran-julurannya adalah wali kan hatinya
Tapi masih ada
Yang terus menjulur bergunung merapi

Munafik itulah namanya
Hati dan lidah tak serasa
Nyata dan maya berbalik arah
Muka dan bokong seakan sama

Dia seperti manuasia tak berbaju
Tapi lupa dan tak tahu masa lalu
Malu akan kekosongan bualannya
Yang  mejadi raja sementara
Dan akan  runtuh, ketika habis rasanya
Dan akan meronsok, terpojok, tanpa sosok
Hanya menjelma menjadi seglintir daun kering

38.PENYESALAN

Pikiranku melayang
Menuju ruang hampa akan rasa
Tiada terkaan angin menjelma
Menjadi bercampur debu debu kotor
Sehingga mataku terlilip olehnya

Air mata tak akan keluar dari mata
Tapi akan keluar dari hati dengan campur darah
Warna mendelima, langkahnya suatu fenomena
Membusuk, seperti baru saja ditusuk

Itu adalah air mata penyesalan
Atas dosa-dosa, yang jika diukur,
Lebih tinggi dari Everest, lebih luas dari Pasifik
Hingga tak tahu lagi, adakah kartu biru di dapat

Bagaimana bisa membuka lembaran baru
Kalau saja, diri berlumur oleh cairan magma
Magma neraka yang panas, berkubaran dengan api api
Membentuk percikan percikan besar

Entah sampai kapan ini terjadi
Aku lelah, letih, melemas  anganku
Memecah otakku menjadi kepingan kepingan
Entah,bagaimana itu bisa terjadi
Kering sudah daun harapku
Gugur entah kemana arah jatuhnya