Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Mencetak Generasi Qur'ani Wawancara dengan Dr. Muhaimin Zen


                Degradasi moralitas dikalangan generasi muda sekarang ini menjadi salah satu persoalan serius. Menjamurnya lembaga pendidikan agama dari tingkatan PAUD hingga Perguruan Tinggi berperan besar dalam menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas. Baik secara akademis maupun spiritual. Lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini diamanahi mendidikan generasi yang andal belumlah sepenuhnya berhasil.  Terbukti, banyak generasi muda sekarang ini baik yang bersekolah di formal maupun non formal gagal menjadi manusia yang baik. Korupsi dan perilaku perbuatan menyimpang lainnya menghidapi mereka. Nah, inilah yang menjadi kegelisahan bersama. Kita umat Islam memiliki sebuah kitab suci yang sangat kaya dengan ajaran nilai pendidikan karakter. dalam kesempatan ini, marilah kita simak wawancara Abror, Wartawan Tebuireng Media Group dengan bapak Muhaimin Zein, salah satu petinggi di Perguruan Tinggi Ilmu Al Qura'an, PTIQ Jakarta,

Santri Tebuireng Berprestasi, Juara II LKTI Nasional


                Satu lagi sebuah pembuktian dari seorang santri, bahwa menjadi santri bukan halangan dalam berprestasi. Bahkan dengan menjadi santri, ada nilai plus yang bisa dimiliki. Rinaldyanti Rukmana Masruroh, Santri Putri SMA Ahmad Wahid Hasyim PP Tebuireng, berhasil meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiyah Nasional di Jakarta beberapa pekan lalu. Berikut wawancara ekslusif wartawan Tebuireng Online dengan Ririn.

Minggu, 16 November 2014

Gus Reza : Mencederai ahlussunnah wal jamaah, Radikalisme Agama Kita Tolak

Gerakan radikalisme dan terorisme semakin marak di Indonesia. Diberbagai belahan dunia terjadi kekerasan berkedok agama. Tidak bisa dipungkiri juga yang terjadi paling hangat dan tak habis-habis di sorot media international adalah radikalisasi agama di dunia islam. Sekarang aliran tersebut sudah masuk menyelundup bahkan terang-terangan di jantung NKRI. Pesantren sebagai lembaga pendidikan islam paling tua dan menjadi pemegang panggung pendidikan islam di Indonesia bagaimanakah perannya dalam membendung radikalisasi yang sedang mengancam negara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berikut wawancara Abror, wartawan TebuirengOnline dengan Ketua PW Rabithoh Ma’ahidil Islamiyah Jawa Timur, H. Reza Ahmad Zahid:

Menurut anda seberapa jauh pengaruh dari masuknya aliran radikalberkedok agama itu menghantui rakyat Indonesia khususnya kaum NU dan Pesantren?
Lebih tepatnya berpotensi untuk merusak ajaran leluhur kita, mencederai ajaran ahlus sunnah wal jama’ah, merusak citra islam itu sendiri dan member pengaruh negatif bagi generasi bangsa. Selain itu juga  mengganggu stabilitas rakyat, merobohkan NKRI dan melanggar Pancasila UUD 19945.

Santri Tebuireng Tembus Empat Besar Olimpiade Sains Internasional

Salah satu santri Pesantren Tebuireng kembali unjuk diri dalam ajang olimpiade. Sebelumnya santriawati Pesantren Tebuireng juara di bidang karya tulis ilmiah tingkat nasional. Pada kali ini di ajang Olimpiade Sains Internasional bidang Matematika di Singapura. Tentunya menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Selain membawa nama baik orangtua, sekolah, dan Pesantren Tebuireng. Prestasi yang sedemikian penting layak dijadikan motivasi bagi para santri lainnya. Bahwa bersekolah dibawah naungan Pesantren mampu berkompetisi dengan sekolah-sekolah unggulan diluar. Berikut wawancara wartawan Tebuireng Online, Abror dengan M. Iklil al-Miladi:iklil
Ilmu  Matematika Seakan Menjadi Pelajaran yang Kurang Menyenangkan Bagi Sebagian Siswa  Karena Bisa Dikatakan “Paling Dibenci”. Menurut Pandangan Anda Ilmu Matematika Seperti Apa?
Matematika sama sekali tidak menjadi beban apalagi menakutkan bagi saya. Memang  di sekolah itu pelajaran Matematika dianggap sulit. Kendati demikian, kita perlu mencoba, itu pasti bisa. Bagi  saya itu sebuah tantangan yang harus dihadapi. Saya ingin mencoba cari hal yang baru dan berbeda dengan anak-anak yang lain. Untuk pelajaran ini yang mudah, ya mungkin biasalah, mencoba untuk menekuni hal yang mereka biasa sebut itu beban karena kesulitannya. Saya berusaha keras dan belajar membuktikannya. Apakah memang benar-benar sulit atau tidak. Mengubah kesulitan menjadi tantangan.

Wawancara Ekslusif dengan Masyamsul Huda Pengarang Novel : Guru Sejati


Pesantren merupakan tempat pengkaderan calon pemimpin umat. Dalam institusi pendidikan klasik, para santri diberikan ruang gerak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Berorganisasi merupakan salah satu sarana santri untuk belajar kepemimpinan, manajerial, dan administratif. Tradisi berorganisasi dikalangan para santri khususnya santri Tebuireng sudah lama terbangun dan berjalan. Kendati demikian, semangat berorganisasi dikalangan para santri selama ini cenderung menurun. Nah, inilah yang menjadi catatan bersama untuk bersama-sama menghidupkan dan menggerakan para santri untuk aktif berorganiasi. Dalam kesempatan ini, kru wartawan TBI mewancarai Masyamsul, penulis sekaligus alumnus pesantren Tebuireng yang kini bermukim di Jakarta.

Apa yang dimaksud dengan “berorganisasi” menurut Bapak?

“Berorganisasi itu berbicara tentang membangun infranstruktur tentang setiap orang mengerjakan apa, setiap orang duduk sebagai apa. Artinya setiap job description setiap orang itu harus jelas, supaya dalam pergerakan itu semua akan bertanggung jawab terhadap job descriptionnya masing-masing. Tidak ada orang itu menjadi sesuatu yang baik. Misalnya dalam organisasi sholat, sebaiknya yang muadzin sendiri yang imam sendiri dan yang iqomah sendiri, apalagi sholatnya semisal sholat jumat. Itu adalah contoh organisasi yang dalam kehidupan sehari-hari kita temui. Maka setelah kita membagi tugas maka orang itu akan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Kemudian infrastruktur itu bisa terbangun.

Seberapa penting berorganisasi di lingkungan pondok pesantren?

Ya penting sekali, mungkin sekarang sudah kendor ya. Maksudnya tidak semangat seperti dahulu. Membuat kegiatan-kegiatan yang  berkompetensi dan berkompetisi. Seperti orda-orda yang sangat padat sekali kegiatannya. Padat kegiatan ini adalah sebuah perencaan dari organisisi pondok untuk menghidupkan organisasi-organisasi kecil berupa klaster-klaster ini menjadi sesuatu yang tidak membosankan, sehingga setiap orang itu senang dan antusias. Setelah hukum dasar ini, orang kan ingin terkenal. Setiap orang paling tidak mengenal dunia organisasi.