Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 November 2014

Maroko, Islam yang Moderat

Tentang Maroko
Tak banyak yang melirik, sebuh negeri kaya peradaban di ujung utara barat Afrika. Negeri para petualang dan kenyang dengan sejarah peradaban dunia. Maroko, negeri dikelilingi benteng-benteng besar di pesisir Samudra Atlantik dan Laut Mediterania sehingga dijuluki negeri seribu benteng. Negeri itu pula  berada di ujung barat dunia islam sehingga disebut Maghrib atau Negeri Senja.
Negara dengan populasi muslim 98% tersebut, memiliki sejarah yang sangat panjang sampai akhirnya sekarang menjadi kerajaan islam parlementer yang moderat dan jauh dari kata konflik besar. sejak pra islam negeri itu beberapa kali berada dalam kekuasaan beberapa bangsa. Mulai dari bangsa Fenesia, bangsa Romawi, bangsa vandal sampai akhirnya gubernur Mesir, Musa Bin Nusair melalui panglimannya Thariq bin Ziyad atas perintah Khalifah al-Walid I bin Abdul Malik (705-715), Khalifah keenam Dinasti Umayyah, berhasil secara menyeluruh menguasai wilayah negera-negara Afrika Utara termasuk Maroko. Dan disinilah pijakan awal Thariq bin Ziyad untuk menjamah tanah Andalusia. Kemudian secara estafet diambil alih oleh kekhalifahan-kekhalifahan  kecil seperti Idrisit, Fatimit, al-Murabithun, al-Muwahidun, Marinit, Wattasit, Saadi dan sekarang Alawiyah.
Islam terus berkembang di Maroko sampai pada akhirnya datang penjajah Prancis dan Spanyol yang berkolonisasi menguasai Maroko pada tahun 1904 dan membagi Maroko menjadi dua, pengaruh  Prancis di Utara dan Spanyol di Selatan yang kemudian kita kenal sekarang dengan Kerajaan Maroko dan Republik demokratik Arab Sahrawi. Dua kubu ini yang sampai sekarang berserteru saling mengklaim kekuasaan di Selatan.
Tahun 1999, Raja Hassan II meninggal dan digantikan oleh Sang Putra Mahkota, Muhammad VI. Raja lulusan Eropa ini benar melakukan perubahan dan merubah wajah Maroko menjadi lebih modern dan mentransformasikan islam kepada  kemoderatan. Peradaban tiga bangsa di masa lalu Arab, Afrika, dan Eropa, mempermudah Maroko menerima arus modernisasi. Darah Ham yang pekerja Keras, Sam yang loyal, serta darah Yafet yang cerdas dan diplomatis, sangat kental dan menjadi ciri khas masyarakat Maroko.
Maroko sangat memperhatikan pendidikan dan pemikiran. Sekolah gratis benar-benar terlaksana, pengembangan universitas-universitas, pendidikan islam juga sangat di perhatikan. Muncul para intelektual muslim yang diperhitungkan di dunia, seperti Abid al-Jabiri, Musthafa al-Qomari, Mohamed Allal al-Fassi dan Ahmed Sattati. Kita juga mengenal pakar maqashid syariah, Dr Raisuni, ahli bahasa arab pengarang kitab al-Ajurumiyah, Imam Sonhaji, petualang dunia, Ibnu Battutah  dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan semua dalam tulisan ini. Ini menandakan memang kebebasan berpikir, tradisi kajian keilmuan memang benar-benar menjadi garapan khusus. Tidak heran jika kita sampai menemukan gelandangan yang hafal qur’an, pengemis yang hafal hadist, pekerja kasar yang faqih, atau seorang pedagang yang menjelaskan masalah muamalah pada pembeli, bahkan orang gila yang berkhutbah.