Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Malam Itu Tuhan Menjawab


Sesosok prawakan Jawa kampung menatap kosong arah animasi kehidupan yang tampak nyata. Tubuhnya yang gempal kekar, dada busung, dan otot-otot yang mencuat ke permukaan, seperti hilang tiada guna sebab kegalauan yang menimpanya. Dibantu dengan surya  yang panasnya seperti tiada ampun dan angin yang kala ini menghempas sinis. Santri yang satu ini memang sedang dirundung pilu. Burhan itulah biasa dipanggil. Di sebuah pesantren mungil, Al-barokah 6 tahun menempa ilmu, baru kali ini ia rasakan sebuah batu sandungan yang membuatnya masuk jurang pula. Bagaimana tidak. Sudah 2 minggu ini ia menanti  amplop putih dari emaknya di seberang pulau jauh.  Tapi setiap penantiannya selalu berhasil nihil. Sedangkan kabutuhan logistik ia harus bersusah payah atau menunggu kemurahan kyai  mengizinkan mengais-ngais tanah mencari ubi yang kiranya sudah layak masak. Terkadang ia harus jadi juru masak atau cuci baju para anak bangsawan dan pejabat.

Dijemput


            Malam itu menjelang tidur, pandangan Irosy tertuju pada tubuh mungil di depannya. Seperti dengan tatapan penuh harap, cemas. Tubuh mungil itu acuh dengan palingan muka yang benar-benar menjengkelkan. Tubuh itu adalah Azyer, adek beda ayah beda ibu tiada sambung dara samasekali. Adek angkat. Sebuah fenomena aneh di pesantren.
            “ Azyer, dengerin kakak! Jangan main ke rental PS lagi! Kasian mama kamu nyari uang. Kamu malah hura-hura dek.” Dengan sedikit wajah kesal lagi khawatir.
            “Apa sih kak? Aku kan dah gedhe. Bukan anak-anak lagi. Ah.. kakak nggak usah ikut campur urusanku lagi!” tubuh itu pergi meninggalkan Irosy dalam kesakitan bathin yang menjorok sangat dalam.
            Azyer dulu adalah anak yang baik. Entah pangaruh pergaulan santri yang tidak benar ia menjadi acuh dan keras kepala. Hobi keluar malam, ngerental PS, dan lain-lain yang nothing importent. Walau Azyer bukan adek kandung Irosy, tapi Irosy menyayanginya jauh dari kata biasa. Kecerian Azyer adalah ladang bunga Irosy, penderitaan Azyer adalah adalah kawah panas bagi Irosy. Azyer berubah. Nakal, egois, acuh, keras kepala. Adek yang ia sayangi, yang ketika sakit ia rawat, ketika sedih ia hibur, hingga kadang materi tiada harganya untuk sekedar melihat Azyer tersenyum bahagia, harus menelan pahitnya pubertas yang sulit terkontrol.
########

Sabtu, 15 November 2014

Hitam Berdarah

“Negeri Ini dibangun atas dasar toleransi.Pancasila dasar Negara telah mengumandankan bineka tunggal ika. Maka kita sebagai rakyat Indonesia wajib menjunjung tinggi toleransi baik dalam beragama maupun berbangsa dan bernegara.”, seorang guru PPKN bertubuh gempal pendek, tapi berwibawa. Belakang aku baru tau dia adalah Pak Mulyanto, guru senior di sekolah SMA. Aku baru saja tahu, bahkan semua guru aku baru saja tahu. Aku baru saja pindah dari Kota ke Desa ini.
          Ayahku, Abdur Rahman ingin mencari ketenangan di desa. Bertahun-tahun tinggal di kota menjadi peneliti Syiah-Sunni  di Universitas ternama di Indonesia. Ayahku memang peneliti syiah yang mendunia. Kekhawatirannya akan perpecahan agamanya, membuatnya bertahan melawan arus ketabuhan. Tak ayal, banyak ulama’, pihak konserfatif, menuduh ayahku syiah.Tapi ayah selalu bilang, tak ada usaha tanpa ujian.Bahkan ayah semakin gencar meneliti dan berusaha menemukan titik temu.
          Teror demi  terror menghampiri rumah kami. Hari demi demi aku besarkan sebuah pertanyaan dalam angan-anganku, “Apa yang salah dengan keluargaku?”. Ayah bukanlah seorang pembunuh, mafia, pengedar narkotika, direktur diskotik malam. Bukan sama sekali. Beliau hanyalah seorang lelaki paruh baya yang merintih kesakitan melihat peperangan sesama umat islam sepanjang sejarah islam. Syiah dan sunni bagaikan dua kubu besar yang dipisah sekat besar. Kematian bagi yang sengaja atau tidak mengusik sekat itu.Kerisauhan itu ia tuangkan dalam bentuk penelitian. Bahkan ayah rela merogoh kocek besar untuk pergi ke Iran demi meneliti islam disana, dulu saat aku masih ingusan. Sampai akhirnya, desa ini kami pilih untuk tinggal.
          “Yah, apa yang Ayah temukan di Iran?”, tanyaku pad Ayah yang sedang menyeruputi kopi di pekarangan. Halaman belakang rumah kami cukup luas, dengan hamparan pemandangan pegunungan yang indah nian.
          “Tak ada apa-apa. Semuanya sama.”, ayah tak mengatakan lagi selain itu. Sejak dulu ayah tidak suka basah-basih.Beranjak pergi dari kursi, menuju ruang perpustakaan keluarga.Lima puluh tahun sudah buku perpus itu menjadi teman ayah. Kemudian beliau sodorkan aku sebuah buku.Lumayan tebal.Aku baca judulnya, “Sunni-Syiah adalah Sama”. Sudah aku duga, ayah akan menyuruhku membaca buku karyanya ini sendiri. Ya…..setidaknya begitu menjadi anak seorang peneliti.Mengelus dada. Bahkan temenku Bahdim, anak Ketua Ormas besar di desa ini lari tunggang langgang hanya karena melihat foto ayah dengan Ayatullah Khomaeni dan Ahmadinejad.         ************

Minggu-minggu Kejutan

Hari Minggu(Insya Allah)
            Bangun tidur, mandi, gosok gigi, membersihkan kamar tidur. Bait lagu anak-anak yang dulu sekali aku kenal, dan selalu teringat. Sangat kontra dengan sebuah lagu dari seorang seniman regee nasional asal kota onde-onde Mojokerto, Mbah surip, “Bangun todur, tidur lagi. tidur lagi bangun lagi,”. jika ditanya mana yang sekarang harus, entah terpaksa atau terbiasa, aku lakukan di sebuah pondok pesantren besar, Pondok Pesantren Tebuireng, ditambah lebel mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang menjadi ikon pembesar dan senioritas disini, jelasnya aku akan mengatakan bait pertama itu yang paling cocok. Bagaimana tidak? Jam 8 sudah masuk kuliah, dengan dosen yang ekstra disiplin.
            Kedewasaan dituntut disini, tak ada lagi suara ustadz pesantren yang datang membawa sajadah “, bangun-bangun….!”, tak ada teriakan ibu menejerit, “Abrorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!. Atau tak ada siraman air pak kyai yang sidak membangunkan sholat shubuh para santrinya.
            “Brakkkk(suara sesuatu jatuh”, terkaget aku dari tidurku yang hiper nyenyak. Sakit, sesuatu menjatuhiku. Terbangun. Ya Allah, apa yang terjadi? Tidak ada yang terjadi. Aku hanya bermimpi terjatuh dari tangga asrama dan terjatuh terbangun dihadang bidadari surga. Malaikat Rahman sangat baik membangunkanku dengan tepat. Pukul setengah 8. Menarik ingatan. Hari ini hari minggu, pelajaran kalam dan hadist dengan pengampuh Profesor Jamaluddin Mirry dosen fenomenal yang sangat tegas dan disiplin. Tak ada cacing bagi burung pemalas. Tak ada ilmu bagi yang terlambat, walau pasang muka “melas”.
            “Is(red; rois = ketua, kebetulan jadi ketua kelas), bangun, Kuliah nggak? Ingat is, sampean rois!”, kata si Zul Hamdi(mahasantri dari Lombok), “Dasar Kwok”, panggilan dalam bahasa Lombok yang artinya tukang tidur dan pemalas.
            “Iya Zul, aku khilaf. Astaghfirullah!”, bergegas aku bangun dan mandi. untuk saja kamar mandinya tak ramai. Kamar mandi asrama sangat berkuatas dilengkapi shower+WC dan tempat untuk bersikat gigi ria.
            Jadwalku setiap pagi adalah setor dari bank perut, cuma aku pikir-pikir lagi akan sangat memakan waktu. Coba aku mulghokan jadwal tersebut untuk sementara waktu. Mengingat waktu sangat mepet sekali. Terlihat mereka yang di kamar mandi pada berhamburan keluar. Yang di kamar juga pada berlarian menenteng kitab-kitab dan tas kecil. Seperti rusa yang kedatangan tamu singa, atau semut yang mencium bau gula.