Sesosok prawakan Jawa kampung menatap kosong arah
animasi kehidupan yang tampak nyata. Tubuhnya yang gempal kekar, dada busung,
dan otot-otot yang mencuat ke permukaan, seperti hilang tiada guna sebab
kegalauan yang menimpanya. Dibantu dengan surya
yang panasnya seperti tiada ampun dan angin yang kala ini menghempas
sinis. Santri yang satu ini memang sedang dirundung pilu. Burhan itulah biasa
dipanggil. Di sebuah pesantren mungil, Al-barokah 6 tahun menempa ilmu, baru
kali ini ia rasakan sebuah batu sandungan yang membuatnya masuk jurang pula.
Bagaimana tidak. Sudah 2 minggu ini ia menanti
amplop putih dari emaknya di seberang pulau jauh. Tapi setiap penantiannya selalu berhasil nihil.
Sedangkan kabutuhan logistik ia harus bersusah payah atau menunggu kemurahan
kyai mengizinkan mengais-ngais tanah
mencari ubi yang kiranya sudah layak masak. Terkadang ia harus jadi juru masak
atau cuci baju para anak bangsawan dan pejabat.Anggota Sanggar Komunitas Penulis Muda Tebuireng(KEPOEDANG) dan aktif di Tebuireng Media Group serta wartawan NU Online Koresponden Pesantren Tebuireng
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 November 2014
Malam Itu Tuhan Menjawab
Sesosok prawakan Jawa kampung menatap kosong arah
animasi kehidupan yang tampak nyata. Tubuhnya yang gempal kekar, dada busung,
dan otot-otot yang mencuat ke permukaan, seperti hilang tiada guna sebab
kegalauan yang menimpanya. Dibantu dengan surya
yang panasnya seperti tiada ampun dan angin yang kala ini menghempas
sinis. Santri yang satu ini memang sedang dirundung pilu. Burhan itulah biasa
dipanggil. Di sebuah pesantren mungil, Al-barokah 6 tahun menempa ilmu, baru
kali ini ia rasakan sebuah batu sandungan yang membuatnya masuk jurang pula.
Bagaimana tidak. Sudah 2 minggu ini ia menanti
amplop putih dari emaknya di seberang pulau jauh. Tapi setiap penantiannya selalu berhasil nihil.
Sedangkan kabutuhan logistik ia harus bersusah payah atau menunggu kemurahan
kyai mengizinkan mengais-ngais tanah
mencari ubi yang kiranya sudah layak masak. Terkadang ia harus jadi juru masak
atau cuci baju para anak bangsawan dan pejabat.Dijemput
Malam itu
menjelang tidur, pandangan Irosy tertuju pada tubuh mungil di depannya. Seperti
dengan tatapan penuh harap, cemas. Tubuh mungil itu acuh dengan palingan muka
yang benar-benar menjengkelkan. Tubuh itu adalah Azyer, adek beda ayah beda ibu
tiada sambung dara samasekali. Adek angkat. Sebuah fenomena aneh di pesantren.
“ Azyer,
dengerin kakak! Jangan main ke rental PS lagi! Kasian mama kamu nyari uang.
Kamu malah hura-hura dek.” Dengan sedikit wajah kesal lagi khawatir.
“Apa sih
kak? Aku kan dah gedhe. Bukan anak-anak lagi. Ah.. kakak nggak usah ikut campur
urusanku lagi!” tubuh itu pergi meninggalkan Irosy dalam kesakitan bathin yang
menjorok sangat dalam.
Azyer dulu
adalah anak yang baik. Entah pangaruh pergaulan santri yang tidak benar ia menjadi acuh dan keras
kepala. Hobi keluar malam, ngerental PS, dan lain-lain yang nothing importent.
Walau Azyer bukan adek kandung Irosy, tapi Irosy menyayanginya jauh dari kata
biasa. Kecerian Azyer adalah ladang bunga Irosy, penderitaan Azyer adalah
adalah kawah panas bagi Irosy. Azyer berubah. Nakal, egois, acuh, keras kepala.
Adek yang ia sayangi, yang ketika sakit ia rawat, ketika sedih ia hibur, hingga
kadang materi tiada harganya untuk sekedar melihat Azyer tersenyum bahagia,
harus menelan pahitnya pubertas yang sulit terkontrol.
########
Sabtu, 15 November 2014
Hitam Berdarah
“Negeri Ini
dibangun atas dasar toleransi.Pancasila dasar Negara telah mengumandankan
bineka tunggal ika. Maka kita sebagai rakyat Indonesia wajib menjunjung tinggi
toleransi baik dalam beragama maupun berbangsa dan bernegara.”, seorang guru
PPKN bertubuh gempal pendek, tapi berwibawa. Belakang aku baru tau dia adalah
Pak Mulyanto, guru senior di sekolah SMA. Aku baru saja tahu, bahkan semua guru
aku baru saja tahu. Aku baru saja pindah dari Kota ke Desa ini.
Ayahku, Abdur Rahman
ingin mencari ketenangan di desa. Bertahun-tahun tinggal di kota menjadi
peneliti Syiah-Sunni di Universitas
ternama di Indonesia. Ayahku memang peneliti syiah yang mendunia.
Kekhawatirannya akan perpecahan agamanya, membuatnya bertahan melawan arus
ketabuhan. Tak ayal, banyak ulama’, pihak konserfatif, menuduh ayahku
syiah.Tapi ayah selalu bilang, tak ada usaha tanpa ujian.Bahkan ayah semakin
gencar meneliti dan berusaha menemukan titik temu.
Teror demi terror menghampiri rumah kami. Hari demi demi
aku besarkan sebuah pertanyaan dalam angan-anganku, “Apa yang salah dengan
keluargaku?”. Ayah bukanlah seorang pembunuh, mafia, pengedar narkotika,
direktur diskotik malam. Bukan sama sekali. Beliau hanyalah seorang lelaki
paruh baya yang merintih kesakitan melihat peperangan sesama umat islam
sepanjang sejarah islam. Syiah dan sunni bagaikan dua kubu besar yang dipisah
sekat besar. Kematian bagi yang sengaja atau tidak mengusik sekat
itu.Kerisauhan itu ia tuangkan dalam bentuk penelitian. Bahkan ayah rela
merogoh kocek besar untuk pergi ke Iran demi meneliti islam disana, dulu saat
aku masih ingusan. Sampai akhirnya, desa ini kami pilih untuk tinggal.
“Yah, apa yang Ayah temukan
di Iran?”, tanyaku pad Ayah yang sedang menyeruputi kopi di pekarangan. Halaman
belakang rumah kami cukup luas, dengan hamparan pemandangan pegunungan yang
indah nian.
“Tak ada apa-apa.
Semuanya sama.”, ayah tak mengatakan lagi selain itu. Sejak dulu ayah tidak
suka basah-basih.Beranjak pergi dari kursi, menuju ruang perpustakaan
keluarga.Lima puluh tahun sudah buku perpus itu menjadi teman ayah. Kemudian
beliau sodorkan aku sebuah buku.Lumayan tebal.Aku baca judulnya, “Sunni-Syiah
adalah Sama”. Sudah aku duga, ayah akan menyuruhku membaca buku karyanya ini
sendiri. Ya…..setidaknya begitu menjadi anak seorang peneliti.Mengelus dada.
Bahkan temenku Bahdim, anak Ketua Ormas besar di desa ini lari tunggang
langgang hanya karena melihat foto ayah dengan Ayatullah Khomaeni dan
Ahmadinejad. ************
Minggu-minggu Kejutan
Hari Minggu(Insya
Allah)
Bangun tidur, mandi, gosok gigi,
membersihkan kamar tidur. Bait lagu anak-anak yang dulu sekali aku kenal, dan
selalu teringat. Sangat kontra dengan sebuah lagu dari seorang seniman regee
nasional asal kota onde-onde Mojokerto, Mbah surip, “Bangun todur, tidur lagi.
tidur lagi bangun lagi,”. jika ditanya mana yang sekarang harus, entah terpaksa
atau terbiasa, aku lakukan di sebuah pondok pesantren besar, Pondok Pesantren
Tebuireng, ditambah lebel mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang menjadi
ikon pembesar dan senioritas disini, jelasnya aku akan mengatakan bait pertama
itu yang paling cocok. Bagaimana tidak? Jam 8 sudah masuk kuliah, dengan dosen
yang ekstra disiplin.
Kedewasaan dituntut disini, tak ada
lagi suara ustadz pesantren yang datang membawa sajadah “, bangun-bangun….!”,
tak ada teriakan ibu menejerit, “Abrorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!. Atau
tak ada siraman air pak kyai yang sidak membangunkan sholat shubuh para
santrinya.
“Brakkkk(suara sesuatu jatuh”,
terkaget aku dari tidurku yang hiper nyenyak. Sakit, sesuatu menjatuhiku.
Terbangun. Ya Allah, apa yang terjadi? Tidak ada yang terjadi. Aku hanya
bermimpi terjatuh dari tangga asrama dan terjatuh terbangun dihadang bidadari
surga. Malaikat Rahman sangat baik membangunkanku dengan tepat. Pukul setengah
8. Menarik ingatan. Hari ini hari minggu, pelajaran kalam dan hadist dengan
pengampuh Profesor Jamaluddin Mirry dosen fenomenal yang sangat tegas dan
disiplin. Tak ada cacing bagi burung pemalas. Tak ada ilmu bagi yang terlambat,
walau pasang muka “melas”.
“Is(red; rois = ketua, kebetulan
jadi ketua kelas), bangun, Kuliah nggak? Ingat is, sampean rois!”, kata si Zul
Hamdi(mahasantri dari Lombok), “Dasar Kwok”, panggilan dalam bahasa Lombok yang
artinya tukang tidur dan pemalas.
“Iya Zul, aku khilaf.
Astaghfirullah!”, bergegas aku bangun dan mandi. untuk saja kamar mandinya tak
ramai. Kamar mandi asrama sangat berkuatas dilengkapi shower+WC dan tempat
untuk bersikat gigi ria.
Jadwalku setiap pagi adalah setor
dari bank perut, cuma aku pikir-pikir lagi akan sangat memakan waktu. Coba aku
mulghokan jadwal tersebut untuk sementara waktu. Mengingat waktu sangat mepet
sekali. Terlihat mereka yang di kamar mandi pada berhamburan keluar. Yang di
kamar juga pada berlarian menenteng kitab-kitab dan tas kecil. Seperti rusa
yang kedatangan tamu singa, atau semut yang mencium bau gula.
Langganan:
Postingan (Atom)